Vaksin Untuk Penyakit Influenza Apa?

Penyakit Flu atau Influenza adalah penyakit yang disebabkan oleh virus RNA yang menginfeksi saluran pernapasan dari hewan, burung, dan manusia. Jika virus flu ini menginfeksi kita, hasil infeksi biasanya ditandai dengan adanya demam, batuk, sakit kepala, dan malaise (lelah, kurang berenergi), kadang juga timbul sakit tenggorokan, mual, muntah, dan diare.

Siapa saja dapat terkena influenza. Kaum lanjut usia, penderita penyakit lain (misalnya penyakit jantung, penyakit paru-paru atau diabetes) dan anak-anak kecil lebih mungkin mengalami komplikasi.

Transmisi virus influenza lewat partikel udara dan lokalisasinya di traktus respiratorius. Penularan bergantung pada ukuran partikel (droplet) yang membawa virus tersebut masuk kedalam saluran pernapasan.

Pada dosis infeksius 10 virus/droplet 50% orang-orang yang terserang dosis ini akan menderita influenza. Mula-mula mengenai sel epitel kolumner bersilia temasuk sel alveoler, sel kelenjar mukosa dan makrofag. Virus akan melekat pada epitel sel di hidung dan bronkus.

Setelah virus berhasil menerobos masuk ke dalam sel, dalam beberapa jam sudah mengalami replikasi. Partikel-partikel virus baru ini kemudian akan menggabungkan diri dekat permukaan sel, dan langsung dapat meninggalkan sel untuk pindah ke sel lain. Virus influenza dapat mengakibatkan demam tetapi tidak sehebat efek pirogen lipopolisakarida kuman bakteri gram negatif.

Flu umumnya sembuh tanpa menyebabkan komplikasi. Meskipun begitu, Anda disarankan untuk tetap berhati-hati karena sistem kekebalan tubuh saat menderita flu akan menurun sehingga lebih mudah tertular penyakit lain.

Demikian pula dengan orang-orang yang lebih rentan mengalami komplikasi, seperti wanita hamil, lansia, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun, serta penderita penyakit kronis (misalnya penyakit paru-paru).

Sejumlah komplikasi yang umum terjadi adalah:

  1. Kelahiran prematur

Pada ibu hamil, risiko untuk terjadi infeksi akibat flu akan meningkat. Flu juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kelahiran prematur atau berat badan lahir bayi yang sangat rendah.

  1. Peningkatan gula darah pada penderita diabetes

Selain meningkatkan gula darah, flu juga berpotensi memicu terjadinya kondisi diabetik ketoasidosis pada penderita diabetes melitus tipe 1.

  1. Infeksi paru-paru

Jenis infeksi paru-paru yang paling sering dialami oleh penderita flu adalah bronkitis. Bronkitis merupakan infeksi di bagian saluran pernapasan utama yang disebut dengan bronkus. Pada beberapa kasus, komplikasi yang lebih parah dapat terjadi, contohnya adalah pneumonia (radang paru).

  1. Perburukan gejala flu

Pada orang-orang dengan masalah kesehatan jangka panjang (kronis) seperti asma atau PPOK, gejala flu bisa menjadi lebih parah daripada orang normal. Di samping itu, ada beberapa jenis komplikasi lain yang juga bisa dipicu oleh flu. Di antaranya adalah pembengkakan amandel (tonsilitis), infeksi telinga, bronkitis, dehidrasi yang parah, serta meningitis.

Pada pengidap flu, dehidrasi juga berpotensi terjadi karena adanya rasa enggan untuk minum akibat sakit tenggorokan dan demam yang dirasakan. Selain orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, anak-anak juga rentan mengalami dehidrasi, khususnya yang berusia di bawah dua tahun.

Vaksin Untuk Penyakit Influenza

Seseorang yang pernah terkana virus influenza, akan membentuk antibodi yang melindunginya terhadap infeksi ulang oleh virus tertentu. Tetapi cara terbaik untuk mencegah terjadinya influenza adalah vaksinasi yang dilakukan setiap tahun.

Vaksin influenza mengandung virus influenza yang tidak aktif (dimatikan) atau partikel-partikel virus. Suatu vaksin bisa bersifat monovalen (1 spesies) atau polivalen (biasanya 3 spesies). Suatu vaksin monovalen bisa diberikan dalam dosis tinggi untuk melawan suatu jenis virus yang baru, sedangkan suatu vaksin polivalen menambah pertahanan terhadap lebih dari satu jenis virus.

Amantadin atau rimantadin merupakan 2 obat anti-virus yang bisa melindungi terhadap influenza A saja. Obat ini digunakan selama wabah influenza A untuk melindungi orang-orang yang kontak dengan penderita dan orang yang memiliki resiko tinggi-yang belum menerima vaksinasi.

Pemakaian obat bisa dihentikan dalam waktu 2-3 minggu setelah menjalani vaksinasi. Jika tidak dapat dilakukan vaksinasi, maka obat diberikan selama terjadi wabah, biasanya selama 6-8 minggu. Oba ini bisa menyebabkan gelisah, sulit tidur dan efek samping lainnya, terutama pada usia lanjut dan pada penderita kelainan otak atau ginjal.

Leave a comment