Tips Cara Mencegah Penyakit Tuberkulosis!

Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit yang parah karena penyakit ini juga menular pada orang lain. negara di asia tenggara termasuk negara negara yang banyak penderita penyakit Tuberkulosis termasuk indonesia.

Tidak sedikit penduduk indonesia yang menderita penyakit Tuberkulosis akibat dari kondisi lingkungan yang kurang bersih dan juga dari faktor daya tahan tubuh yang baik, maka dari itu Tuberkulosis bisa dialami dengan mudah.

Penyakit Tuberkulosis bisa lebih mudah dialami oleh seseorang yang memiliki dayan tahan tubuh lemah, karena penyebab dari penyakit Tuberkulosis yang pertama yaitu karena disebabkan oleh penyakit Tuberkulosis oleh bakteri.

Paru paru yang di masukkan oleh bakteri yang bisa menyebabkan penyakit Tuberkulosis. Infeksi dari bakteri bisa menyebabkan penyakit Tuberkulosis, maka dari itu daya tahan tubuh yang kuat perlu sekali melindungi tubuh.

Penyakit Tuberkulosis paru-paru sifatnya menular dengan perantara batuk, bersin atau lainnya yang mengakibatkan bakteri tuberculloa berpindah. Bakteri tersebut mengendap dan berkumpul di paru-paru.

Selain paru-paru, basil Tuberkulosis juga bisa menyerang tulang, otak, sistem pencernaan, kelenjar getah bening, sistem saluran kemih, serta sistem saraf.

Tanda tanda dan gejala penyakit Tuberkulosis aktif meliputi:

– Menggigil

– Keringat dingin di malam hari

– Batuk Berdarah

– Mudah merasa lelah

– Batuk yang tak kunjung berhenti selama tiga minggu bahkan lebih

– Terasa nyeri pada bagian dada, atau rasa sakit pada saat bernapas atau batuk.

Cara Mencegah Penyakit Tuberkulosis

Cara Penularan Tuberkulosis perlu diwaspadai dengan mengambil tindakan-tindakan pencegahan selayaknya untuk menghindarkan infeksi tetes dari penderita ke orang lain. Salah satu cara adalah batuk dan bersin sambil menutup mulut/hidung dengan sapu tangan atau kertas tissue untuk kemudian didesinfeksi dengan lysol atau dibakar.

Bila penderita berbicara, jangan terlampau dekat dengan lawan bicaranya. Ventilasi yang baik dari ruangan juga memperkecil bahaya penularan. Anak-anak dibawah usia satu tahun dari keluarga yang menderita Tuberkulosis perlu divaksinasi BCG sebagai pencegahan, bersamaan dengan pemberian isoniazid 5-10 mg/kg selama 6 bulan (kemoprofilaksis).

  1. Reaksi Mantoux (Reaksi Tuberkulin)

Dilakukan untuk menentukan belum atau sudahnya seseorang terinfeksi basil Tuberkulosis. Reaksi ini dilakukan dengan penyuntikan intradermal dari tuberkulin, suatu filtrat dari pembiakan basil yang mengandung produk pemisahannya (protein) yang khas.

– Reaksi Positif

Tampak sebagai kemerah-merahan setempat dan menunjukkan terdapatnya antibodies terhadap basil Tuberkulosis di dalam darah. Hal ini berarti bahwa yang bersangkutan pernah mengalami infeksi primer atau telah divaksinasi dengan BCG. Antibodi tersebut telah menjadikannya kebal terhadap infeksi baru. Orang dengan reaksi tuberkulin positif harus diperiksa lebih lanjut sputum dan paru-parunya dengan sinar Rontgen.

– Reaksi Negatif

Berarti bahwa orang yang bersangkutan belum pernah mengalami infeksi primer. Ia lebih mudah terserang Tuberkulosis daripada orang dengan reaksi positif.

  1. Kemoprofilaksis

Terutama dilakukan dengan isoniazida. Anak-anak di bawah usia 4 tahun dari keluarga penderita tuberkulosis dan orang-orang dengan resiko besar untuk dihinggapi infeksi dapat diberikan secara kontinu selama 6 bulan isoniazida sebagai profilaksis.

Bila terdapat intoleransi dapat diganti dengan rifampisin, maksimal 6 bulan. Di samping itu, dilakukan pula imunisasi dengan BCG. Untuk profilaksis terhadap infeksi M. avium dianjurkan monoterapi dengan antibiotikum makrolida azitromisin (1 kali seminggu 1.200 mg).

  1. Vaksin BCG

Daya tangkis orang dengan reaksi tuberkulin negatif dapat diperkuat melalui vaksinasi dengan vaksin BCG. Vaksin ini mengandung basil Tuberkulosis sapi yang telah dihilangkan keganasannya (virulensi) setelah dibiakkan di laboratorium selama bertahun-tahun.

Vaksinasi meninggalkan tanda bekas luka yang nyata, biasanya dilengan bawah dan memberikan kekebalan selama 3-6 tahun terhadap infeksi primer dan efektif untuk rata-rata 70%. Vaksin BCG terutama efektif untuk menghindari Tuberkulosis miliar dan Tuberkulosis meningitis. Bayi di daerah dengan insidensi Tuberkulosis besar seringkali diimunisasi dengan BCG secara rutin.

Efektivitas vaksin BCG adalah kontroversial, walaupun sudah digunakan lebih dari 50 tahun di seluruh dunia. Hasilnya sangat bervariasi, beberapa penelitian baru telah memperlihatkan perlindungan terhadap lepra, tetapi sama sekali tidak terhadap tuberkulosis. Vaksin BCG diberikan intradermal 0,1 ml bagi anak-anak dan orang dewasa, 0,05 untuk bayi.

Leave a comment