Obat Terapi Penyakit Lupus Aman!

Penyakit lupus atau biasa disebut juga dengan penyakit autoimun merupakan penyakit yang disebabkan karena kelebihan kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh (imunitas) yang berlebihan tersebut menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Biasanya bagian tubuh yang diserang adalah kulit, sendi, sel darah, paru-paru, dan jantung.

Seperti Anda ketahui, sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk melindungi tubuh dari bakteri dan virus. Namun pada penderita penyakit lupus, sistem kekebalan tubuh justru menyerang sistem organ yang ada di dalam tubuh. Karena ketidakseimbangan imunitas yang terjadi di dalam tubuh, maka penyakit lupus termasuk penyakit yang tidak menular namun berpotensi mematikan.

Tipe Penyakit Lupus

Penyakit lupus terbagi dalam beberapa tipe, antara lain:

  • Lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus/SLE).
  • Lupus eritematosus diskoid (discoid lupus erythematosus/DLE).
  • Lupus akibat penggunaan obat.

Terapi Obat Penyakit Lupus

  1. Hydroxychloroquine

Selain dipakai juga untuk mengatasi malaria, obat ini dapat efisien untuk menyembuhkan gejala-gejala paling utama SLE. Salah satunya:

  • Nyeri sendi serta otot
  • Kelelahan
  • Ruam pada kulit

Dokter spesialis biasanya menyarankan mengkonsumsi obat ini untuk periode panjang untuk pasien SLE. Maksudnya yaitu untuk:

  • Menghindar serangan yang kronis
  • Mengatur tanda-tanda
  • Menghindar dari perubahan komplikasi yang lebih serius

Keefektifan hydroxychloroquine umum bakal dirasa pasien SLE sesudah mengkonsumsinya sepanjang 1, 5-3 bln. Namun semuanya obat tetaplah mempunyai resikonya, termasuk juga hydroxychloroquine. Salah satunya yaitu masalah pencernaan, diare, sakit kepala, serta ruam pada kulit.

Obat ini dapat mempunyai resikonya lain yang lebih serius, namun begitu tidak sering berlangsung. Misalnya, diprediksikan ada resiko 1 : 2000 diantara pasien SLE yang konsumsi obat ini yang mungkin saja alami rusaknya mata.

Lantaran begitu tidak sering, kontrol mata pada umumnya tak diwajibkan untuk semuanya pasien lupus yang konsumsi obat ini. Selekasnya konsultasikanlah pada dokter bila Kamu alami masalah pandangan sepanjang konsumsi hydroxychloroquine.

  1. Obat Anti Inflamasi Nonsteroid

Nyeri sendi atau otot adalah satu diantara tanda-tanda paling utama SLE. Dokter mungkin saja bakal berikan obat anti inflamasi nonsteroid untuk kurangi tanda-tanda ini. Obat anti inflamasi nonsteroid yaitu pereda sakit yang bisa kurangi inflamasi yang berlangsung pada badan.Type obat yang biasanya diberikan dokter pada pasien SLE mencakup ibuprofen, naproxen, diclofenac, serta piroxicam

Type obat ini (terlebih, ibuprofen) telah di jual bebas serta bisa menyembuhkan nyeri sendi atau otot yang enteng. Namun Kamu memerlukan obat dengan resep dokter bila alami nyeri sendi atau otot yang lebih kronis

Pasien SLE juga baiknya siaga lantaran obat ini tak pas bila mereka tengah atau pernah alami masalah lambung, ginjal, atau hati

Diluar itu, anak-anak dibawah 16 th. baiknya tak meminum aspirin. Konsultasikanlah pada dokter untuk temukan obat anti inflamasi nonsteroid yang pas untuk Kamu

Mengkonsumsi obat anti inflamasi nonsteroid dosis tinggi atau periode panjang bisa menyebabkan pendarahan dalam lantaran rusaknya dinding lambung. Karenanya, dokter bakal memonitor keadaan pasien SLE yang perlu mengonsumsinya untuk periode panjang dengan jeli. Bila komplikasi ini memanglah berlangsung, dokter bakal menyarankan alternatif lain.

  1. Obat imunosupresan

Langkah kerja obat ini yaitu dengan menghimpit kemampuan system kekebalan badan. Terdapat banyak type imunosupresan yang umumnya diberikan dengan resep dokter, yakni azathioprine, mycophenolate mofetil, serta cyclophosphamide.

Imunosupresan bakal memperingan tanda-tanda SLE dengan membatasi rusaknya pada bebrapa sisi badan yang sehat akibat serangan system kekebalan badan. Obat ini dapat kadang-kadang diberikan berbarengan dengan kortikosteroid. Bila dipadukan, keduanya bisa memperingan tanda-tanda SLE dengan lebih efisien.

Pemakaian imunosupresan juga peluang bisa kurangi dosis kortikosteroid yang diperlukan pasien. Imunosupresan termasuk juga obat yang begitu keras serta bisa mengakibatkan resikonya seperti berikut:

  • Muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Pembengkakan gusi
  • Diare
  • Kejang-kejang
  • Gampang lebam atau berdarah
  • Sakit kepala

Karenanya, obat ini umumnya diberikan dengan resep dokter cuma untuk pasien SLE yang alami tanda-tanda atau serangan yang kronis. Selekasnya tanyakan pada dokter bila ada resikonya yang merasa lebih mengganggu dari pada faedahnya.

  1. Rituximab

Bila obat-obat lain tak mempan untuk pasien SLE, dokter bakal menyarankan rituximab. Obat ini termasuk juga type baru serta awalannya diperkembang untuk mengatasi kanker darah spesifik, umpamanya limfoma.

Namun rituximab dapat dibuktikan efisien untuk mengatasi penyakit autoimun, seperti SLE serta artritis reumatoid. Langkah kerja rituximab yaitu dengan mengincar serta membunuh sel B. Ini yaitu sel yang menghasilkan antibodi sebagai penyebab tanda-tanda SLE.

Obat ini bakal dimasukkan lewat infus yang bakal berjalan sepanjang sebagian jam. Sepanjang sistem penyembuhan ini berjalan, keadaan Kamu bakal diawasi dengan jeli.

Resikonya yang umum dari rituximab mencakup pusing, muntah, serta tanda-tanda yang serupa flu (umpamanya menggigil serta demam tinggi sepanjang penyembuhan berjalan). Resikonya lain yang mungkin saja berlangsung (walau begitu tidak sering) yaitu reaksi alergi.

Lalu di era modern ini sudah banyak berkembang pengobatan yang sangat baik sehingga penderita SLE ini dapat hidup lebih lama. Dan hal ini juga dipengaruhi tingkat kesadaran keluarga dan masyarakat yang turut mensupport kesembuhan dari masing- masing. Banyak juga obat tradisional yang sudah terbukti ampuh untuk mengobati penyakit lupus.

  1. Kortikosteroid

Kortikosteroid bisa kurangi inflamasi dengan cepat serta efisien. Obat Penyakit Lupus ini umumnya didapatkan dari dokter bila pasien SLE alami tanda-tanda atau serangan yang kronis. Untuk mengatur tanda-tanda dan serangan, step awal pemberian obat ini mungkin saja bakal berdosis tinggi.

Lantas dosisnya di turunkan dengan cara bertahap bersamaan keadaan pasien yang lebih baik. Kortikosteroid senantiasa diberikan dengan dosis paling rendah yang efisien. Dosis tinggi dan mengkonsumsi periode panjang obat ini bisa mengakibatkan resikonya yang mencakup penipisan tulang, penipisan kulit, menambahnya berat tubuh, serta penambahan desakan darah tinggi.

Langkah meminimalisasi resikonya steroid yaitu dengan sesuaikan dosis steroid dengan kesibukan penyakit sembari mengaturnya dengan cara efisien. Sepanjang Kamu ikuti resep serta dipantau oleh dokter, kortikosteroid termasuk juga obat yang aman untuk digunakan

Leave a comment