Inilah Pengertian Penyakit HIV!

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV.

HIV merupakan sebuah retrovirus yang memiliki genus lentivirus, genus ini memiliki tipe klinis seperti sumber penyakit infeksi yang kronis, periode laten klinis yang panjang, replikasi virus yang persisten dan terlibat dalam sistem saraf pusat.

Virus ini berbeda dengan virus lain karena tubuh manusia tidak dapat menyingkirkan virus ini. HIV menyebar melalui cairan tubuh dan memiliki cara khas dalam menginfeksi sistem kekebalan tubuh manusia terutama sel CD4 atau sel-T.

HIV secara khusus menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup limfosit penolong dengan peran kritis dalam mempertahankan responsivitas imun, juga meperlihatkan pengurangan bertahap bersamaan dengan perkembangan penyakit. Mekanisme infeksi HIV yang menyebabkan penurunan sel CD4.

HIV secara  istimewa  menginfeksi  limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup linfosit penolong dengan peran kritis dalam mempertahankan responsivitas imun, juga memperlihatkan pengurangan bertahap bersamaan dengan perkembangan penyakit.

Mekanisme infeksi HIV yang menyebabkan penurunan sel CD4 ini tidak pasti, meskipun kemungkinan mencakup infeksi litik sel CD4 itu sendiri; induksi apoptosis melalui antigen viral, yang dapat bekerja sebagai superantigen; penghancuran sel yang terinfeksi melalui mekanisme imun antiviral penjamu dan kematian atau disfungsi precursor limfosit atau sel asesorius pada timus dan kelenjar getah bening. HIV dapat menginfeksi jenis sel selain limfosit.

Infeksi HIV pada monosit, tidak seperti infeksi pada limfosit CD4, tidak menyebabkan kematian sel. Monosit  yang terinfeksi dapat berperang sebagai reservoir virus laten tetapi tidak dapat diinduksi, dan dapat membawa virus ke organ, terutama otak, dan menetap di otak.

Percobaan hibridisasi memperlihatkan asam nukleat viral pada sel-sel kromafin mukosa usus, epitel glomerular dan tubular dan astroglia. Pada jaringan janin, pemulihan virus yang paling konsisten adalah dari otak, hati, dan paru.

Patologi terkait HIV melibatkan banyak organ, meskipun sering sulit untuk mengetahui apakah kerusakan terutama disebabkan oleh infeksi virus local atau komplikasi infeksi lain atau autoimun.

Diagnosis

Demam dan ruam mudah dilihat pada pemeriksaan fisik. Namun, karena demam dan ruam adalah gejala masalah medis yang mendasari, penyebab harus ditentukan agar pasien dapat diobati. Waktu pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan anamnesis (mengambil riwayat medis dan sosial kita) untuk menentukan penyebab dasar. Tes laboratorium mungkin juga dibutuhkan.

  1. Pemeriksaan fisik dan anamnesis

Dokter akan menilai berapa lama kita ruam, serta mengumpulkan informasi mengenai riwayat alergi, infeksi, atau penyakit kulit lain. Penting dokter diketahui mengenai perubahan dalam pengobatan, bila ada, terutama bila kita baru saja mulai memakai obat, jamu atau suplemen baru.

Tes imunoglobulin khusus alergen (IgE): Tes IgE ini, juga sering disebut sebagai tes radioalergosorbent (RAST), dapat dipakai untuk menentukan apakah kita alergi terhadap senyawa tertentu, misalnya obat atau makanan. Saat ini, lebih dari 550 alergen tersedia untuk ditentukan.

Tes ini kurang akurat dibandingkan tes kulit. Tes ini umumnya dilakukan pada pasien dengan penyakit kulit yang berat (misalnya ekzema atau psoriasis) yang menghambat taksiran tes kulit. Untuk tes ini, contoh darah kita dikirim ke laboratorium untuk dites.

Alergen digabung dengan darah untuk menentukan apakah kita mempunyai antibodi IgE terhadap alergen. Antibodi adalah unsur yang mencari dan mengikat pada benda asing di tubuh. Bila kita mempunyai antibodi IgE, alergi didiagnosis.

  1. Tes darah

Tes darah dapat dilakukan untuk menentukan apakah kita memiliki infeksi bakteri atau virus. Contoh darah kita dianalisis di bawah mikroskop untuk mencari bakteri atau virus.

  1. Tes kulit

Tes kulit mungkin dipakai untuk menentukan apakah ruam disebabkan oleh reaksi alergi. Kulit kita dipajankan terhadap alergen yang terduga memicu reaksi alergi, dan mengamati reaksi.

Bila alergen memicu reaksi alergi, kita akan mengembangkan pemerahan, pembengkakan atau benjolan berwarna merah yang gatal, mirip dengan gigitan nyamuk. Dokter akan mengukur ukuran benjolan dan mencatat hasil. Semakin besar benjolan itu, semakin berat alergi.

Langkah Pengobatan Bagi Penderita HIV

Meski belum ada obat untuk sepenuhnya menghilangkan HIV, tapi langkah pengobatan HIV yang ada pada saat ini cukup efektif. Pengobatan yang dilakukan bisa memperpanjang usia hidup penderita HIV dan mereka bisa menjalani pola hidup yang sehat.

Terdapat obat-obatan yang dikenal dengan nama antiretroviral (ARV) yang berfungsi menghambat virus dalam merusak sistem kekebalan tubuh. Obat-obatan tersebut diberikan dalam bentuk tablet yang dikonsumsi setiap hari.

Anda akan disarankan melakukan pola hidup sehat. Misalnya makanan sehat, tidak merokok, mendapatkan vaksin flu tahunan, dan vaksin pneumokokus lima tahunan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko terkena penyakit berbahaya.

Tanpa pengobatan, orang dengan sistem kekebalan yang terserang HIV akan menurun drastis. Dan mereka cenderung menderita penyakit yang membahayakan nyawa seperti kanker. Hal ini dikenal sebagai HIV stadium akhir atau AIDS.

Leave a comment