Inilah 8 Obat Sakit Diabetes Ini Harus Kamu Tau Jika Kamu Ingin Sembuh!

Penyakit Diabetes atau sakit gula ini menyerang pada mereka yang kurang aktif bergerak. Biasanya melanda pada mereka yang bekerja dengan kesibukkan hanya duduk-duduk manis, bisa dipastikan kadar gula dalam darah akan meningkat. Jika gaya hidup tak diubah, kadar gula akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur.

Sakit gula atau yang biasa disebut sebagai penyakit diabetes ini merupakan penyakit yang harus diwaspadai karena penyakit gula ini termasuk dalam salah satu penyakit yang dapat mengancam jiwa hingga menyebabkan kematian.

Gejala Diabetes

Adapun gejala diabetes adalah sebagai berikut:

– Sering kelaparan (polifagia)

– Jika terjadi luka pada tubuh, lama untuk mengering atau sembuh.

– Fungsi saraf menurun

– Berat badan yang terus menurun tanpa diketahui sebab pastinya.

– Sering merasa kehausan tanpa tahu penyebab pastinya karena tubuh kehilangan banyak cairan karena seringnya buang air kecil.

– Warna kulit menjadi gelap terutama di bagian sekitar leher. Hal ini disebabkan karena insulin yang direspon oleh tubuh banyak menghasilkan pigmen.

– Penglihatan melemah. Hal ini disebabkan karena glukosa dalam darah meningkat sehingga penglihatan sering tidak fokus.

Obat untuk Diabetes

Tujuan pengobatan diabetes adalah untuk memertahankan keseimbangan kadar gula darah dan meminimalisasi risiko komplikasi. Berikut obat yang biasa diberikan untuk penderita Diabetes

  1. Metformin untuk mengurangi kadar gula darah

Metformin bekerja dengan mengurangi kadar gula yang disalurkan hati ke aliran darah dan membuat tubuh lebih responsif terhadap insulin. Ini obat pertama yang sering dianjurkan bagi penderita diabetes tipe 2.

Berbeda dengan obat-obat lain, metformin tidak menyebabkan kenaikan berat badan. Karena itu obat ini biasanya diberikan untuk penderita yang mengalami kelebihan berat badan.

Tetapi metformin kadang-kadang dapat menyebabkan efek samping yang ringan, misalnya mual dan diare. Dokter juga tidak menganjurkan obat ini untuk penderita diabetes yang mengalami masalah ginjal.

  1. Sulfonilurea untuk meningkatkan produksi insulin dalam pankreas

Sulfonilurea berfungsi meningkatkan produksi insulin dalam pankreas. Penderita diabetes yang tidak dapat meminum metformin atau tidak kelebihan berat badan mungkin akan diberikan obat ini.

Jika metformin kurang efektif untuk mengendalikan kadar gula darah Anda, dokter mungkin akan mengombinasikannya dengan sulfonilurea. Contoh-contoh obat ini adalah glimepiride, glibenclamide, glipizide, gliclazide, dan gliquidone.

sulfonilurea akan meningkatkan kadar insulin dalam tubuh sehingga dapat mempertinggi risiko hipoglikemia jika ada kesalahan dalam penggunaannya. Obat ini juga memiliki efek samping seperti kenaikan berat badan, mual, muntah, serta diare.

  1. Penghambat SGLT-2 yang berdampak pada urine

Penghambat SGLT-2 akan meningkatkan kadar gula yang dikeluarkan melalui urine. Namun, obat ini meningkatkan risiko infeksi pada saluran kemih dan kelamin bagi pengidap diabetes.

Obat ini dianjurkan apabila metformin dan DPP-4 tidak cocok digunakan oleh pengidap. Contoh penghambat SGLT-2 meliputi dapagliflozin, canagliflozin, dan empagliflozin.

  1. Agonis GLP-1 sebagai pemicu insulin tanpa risiko hipoglikemia

Agonis GLP-1 memiliki kinerja yang mirip hormon GLP-1 alami. Obat ini diberikan melalui suntikan untuk merangsang produksi insulin saat kadar gula darah tinggi tanpa memicu risiko hipoglikemia.

  1. Acarbose untuk memperlambat pencernaan karbohidrat

Acarbose akan memperlambat proses pencernaan karbohidrat menjadi gula. Obat ini mencegah peningkatan kadar gula darah yang terlalu cepat setelah penderita diabetes makan.

Obat ini dapat menyebabkan efek samping diare serta perut kembung. Acarbose juga jarang digunakan untuk mengobati diabetes tipe 2, kecuali jika penderita tidak cocok meminum obat lain.

  1. Pioglitazone sebagai pemicu insulin

Pioglitazone biasanya dikombinasikan dengan metformin, sulfonilurea, atau keduanya. Obat ini akan memicu sel-sel tubuh agar lebih sensitif terhadap insulin, sehingga lebih banyak glukosa yang dipindahkan dari dalam darah.

Obat ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan pembengkakan pada pergelangan kaki. Anda tidak dianjurkan untuk meminum pioglitazone jika pernah mengalami gagal jantung atau berisiko mengalami patah tulang.

  1. Gliptin (penghambat DPP-4 ) sebagai pencegah pemecahan GLP-1

Gliptin atau penghambat DPP-4 mencegah pemecahan hormon GLP-1 (glucagon-like peptide-1). GLP-1 adalah hormon yang berperan dalam produksi insulin saat kadar gula darah tinggi. Dengan demikian, gliptin membantu menaikkan tingkat insulin saat kadar gula naik.

Gliptin (misalnya, linagliptin, saxagliptin, sitagliptin, dan vildagliptin) dapat menghambat peningkatan kadar gula darah tinggi tanpa menyebabkan hipoglikemia. Obat ini tidak menyebabkan kenaikan berat badan dan biasanya diberikan jika penderita tidak bisa meminum sulfonilurea atau glitazone, atau dikombinasikan dengan keduanya.

  1. Nateglinide dan Repaglinide untuk melepas insulin ke aliran darah

Kedua obat ini akan merangsang pankreas untuk melepaskan lebih banyak insulin ke aliran darah. Fungsi nateglinide dan repaglinide tidak dapat bertahan lama, tapi efektif saat diminum sebelum makan. Meski jarang digunakan, keduanya dianjurkan apabila penderita memiliki jadwal makan pada jam-jam yang tidak biasa.

Semua obat tetap memiliki efek samping, termasuk nateglinide dan repaglinide . Efek samping dari kedua obat ini adalah hipoglikemia dan kenaikan berat badan.

Terapi Insulin Sebagai Pendamping Obat-obatan Lain

Obat-obatan dalam bentuk tablet mungkin akan kurang efektif untuk mengobati diabetes, sehingga Anda membutuhkan terapi insulin. Berdasarkan dosis dan cara pemakaiannya, terapi ini dapat diberikan untuk menggantikan atau diberikan bersamaan dengan obat-obatan di atas.

Obat-Obatan Lain yang Umumnya Dibutuhkan Penderita Diabetes Tipe 2

Penderita diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi (penyakit jantung, stroke, atau penyakit ginjal). Dokter biasanya akan menyarankan obat-obat berikut ini untuk mengurangi risiko komplikasi:

– Statin (misalnya, simvastatin) untuk mengurangi kadar kolesterol tinggi.

– Obat penurun hipertensi.

– Obat-obatan ACE Inhibitor, seperti lisinopril, enalapril, atau ramipril, apabila ada indikasi penyakit ginjal diabetik. Perkembangan penyakit yang ditandai dengan adanya protein albumin dalam urine ini dapat disembuhkan jika segera ditangani.

Leave a comment