Etiologi Tentang Penyakit Tuberkulosis Paru!

Penyakit paru paru yang paling dikenal oleh banyak orang mungkin hanya bronkitis atau pun paru paru basah, tetapi ada penyakit paru paru yang lebih parah lagi dari dua jenis penyakit tersebut yaitu penyakit Tuberkulosis. Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit yang parah karena penyakit ini juga menular pada orang lain.

Negara di Asia Tenggara termasuk negara negara yang banyak penderita penyakit Tuberkulosis termasuk indonesia. Tidak sedikit penduduk indonesia yang menderita penyakit Tuberkulosis akibat dari kondisi lingkungan yang kurang bersih dan juga dari faktor daya tahan tubuh yang baik, maka dari itu Tuberkulosis bisa dialami dengan mudah.

Penyakit Tuberkulosis bisa lebih mudah dialami oleh seseorang yang memiliki dayan tahan tubuh lemah, karena penyebab dari penyakit Tuberkulosis yang pertama yaitu karena disebabkan oleh penyakit Tuberkulosis oleh bakteri. Paru paru yang di masukkan oleh bakteri yang bisa menyebabkan penyakit Tuberkulosis. Infeksi dari bakteri bisa menyebabkan penyakit Tuberkulosis, maka dari itu daya tahan tubuh yang kuat perlu sekali melindungi tubuh.

Etiologi Penyakit Tuberkulosis Paru

Mycobacterium tuberculosis (MTuberkulosis) merupakan spesies bakteri patogen dalam genus mycobacterium dan agen penyebab kasus tuberkulosis. Bakteri ini pertama kali ditemukan pada tahun 1882 oleh Robert Koch M. Bakteri penyebab Tuberkulosis ini juga dikenal dengan sebutan abasilus koch.

Sebagian besar komponen M. Tuberkulosis adalah berupa lemak/lipid sehingga kuman mampu bertahan terhadap asam serta tahan terhadap zat kimia dan faktor fisik. Mikroorganisme ini bersifat aerob yang berarti menyukai daerah yang banyak oksigen. Oleh karena itu, M. Tuberkulosis ini senang tinggal di daerah afeks seperti paru paru yang memiliki kandungan oksigen tinggi.

Penderita yang terserang basil tersebut biasanya akan mengalami demam tapi tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.

Gejala Penyakit Tuberkulosis

Gejala umum penyakit Tuberkulosis, di antaranya:

– Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam

– Penurunan nafsu makan dan berat badan.

– Badan terasa lemah dan lesu.

– Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu ( hati-hati jika disertai dengan darah kemungkinan besar menderita penyakit Tuberkulosis).

– Perasaan tidak enak (malaise).

Penyembuhan Penyakit Tuberkulosis

Penyakit yang tergolong serius ini dapat disembuhkan dan jarang berakibat fatal jika diobati dengan benar. Langkah pengobatan yang digunakan adalah pemberian antibiotik yang harus dihabiskan oleh pengidap Tuberkulosis selama jangka waktu tertentu sesuai resep dokter.

Jenis-jenis antibiotik yang digunakan umumnya adalah isoniazid, rifampicin, pyrazinamide dan ethambutol. Sama seperti semua obat-obat lain, antibiotik untuk Tuberkulosis juga memiliki efek samping, terutama rifampicin, isoniazid, dan ethambutol.

Rifampicin dapat menurunkan keefektifan alat kontrasepsi yang mengandung hormon. Sementara ethambutol dapat memengaruhi kondisi penglihatan pengidap. dan isoniazid berpotensi merusak saraf.

Sejumlah efek samping lain dari obat-obatan Tuberkulosis meliputi mual, muntah, penurunan nafsu makan, sakit kuning, urine yang berwarna gelap, demam, ruam, serta gatal-gatal pada kulit.

Masa penyembuhan Tuberkulosis berbeda-beda pada tiap pengidap dan tergantung pada kondisi kesehatan pengidap serta tingkat keparahan Tuberkulosis yang dialami. Kondisi pengidap umumnya akan mulai membaik dan Tuberkulosis berhenti menular setelah mengonsumsi antibiotik selama 2 minggu. Tetapi untuk memastikan kesembuhan total, pengidap Tuberkulosis harus menggunakan antibiotik yang diberikan dokter selama 6 bulan.

Apabila pengidap tidak meminum obat sesuai resep dokter atau berhenti meminumnya sebelum waktu yang dianjurkan, bakteri Tuberkulosis bisa tidak hilang sepenuhnya meski pengidap merasa kondisinya sudah membaik. Infeksi Tuberkulosis yang diidap juga berpotensi menjadi resistan terhadap antibiotik. Jika ini terjadi, Tuberkulosis akan menjadi lebih berbahaya dan sulit diobati sehingga masa penyembuhannya pun akan jauh lebih lama.

Leave a comment