Askep Penyakit Thypoid!

Thypoid merupakan salah satu gangguan kesehatan akibat infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada aliran darah atau pada usus. Penyebab utama dari gangguan ini adalah kuman salmonella thypi yang berkembang biak pada saluran pencernaan manusia.

Kuman yang telah berada di dalam usus dapat menyebar menuju pembuluh darah dan menciptakan gejala penyakit thypoid. Sumber utama penularan penyakit thypoid adalah tinja yang telah terkontaminasi oleh salmonella typhi. Pada negara berkembang termasuk negara Indonesia, penyebaran bakteri salmonella typhi banyak berasal dari konsumsi air yang sudah terkontaminasi oleh tinja tersebut.

Bukan hanya air, namun makanan juga memberi pengaruh yang sama. Kontaminasi pada air, dapat dimungkinkan terjadi, karena sanitasi yang buruk serta kurangnya akses pada sumber air yang bersih.

Penyebaran bakteri salmonella typhi juga bisa disebabkan oleh kebiasaan buruk seseorang seperti jarang mencuci tangan sebelum makan atau saat mengolah makanan yang tidak dibersihkan dengan baik. Penyebaran dapat terjadi ketika ada orang lain yang mengonsumsi makanan yang sebelumnya telah disentuh oleh si penderita.

Asuhan Keperawatan Penyakit Thypoid

Berikut adalah asuhan keperawatan penyakit thypoid:

  1. Pengkajian

Faktor Presipitasi dan Predisposisi

Faktor presipitasi dari demam typhoid adalah disebabkan oleh makanan yang tercemar oleh salmonella typhoid dan salmonella paratyphoid A, B dan C yang ditularkan melalui makanan, jari tangan, lalat dan feses, serta muntah diperberat bila klien makan tidak teratur.

Faktor predisposisinya adalah minum air mentah, makan makanan yang tidak bersih dan pedas, tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dari wc dan menyiapkan makanan.

  1. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang mungkin muncul pada klien typhoid adalah:

– Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi.

– Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik.

– Resti ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d hipertermi dan muntah.

– Resti gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.

– Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat.

  1. Perencanaan

Berdasarkan diagnosa keperawatan secara teoritis, maka rumusan perencanaan keperawatan pada klien dengan typhoid, adalah sebagai berikut:

Diagnosa. 1

Resti gangguan ketidak seimbangan volume cairan dan elektrolit, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hipertermia dan muntah.

– Tujuan

Ketidak seimbangan volume cairan tidak terjadi

– Kriteria hasil

Membran mukosa bibir lembab, tanda-tanda vital (TD, S, N dan RR) dalam batas normal, tanda-tanda dehidrasi tidak ada

– Intervensi

Kaji tanda-tanda dehidrasi seperti mukosa bibir kering, turgor kulit tidak elastis dan peningkatan suhu tubuh, pantau intake dan output cairan dalam 24 jam, ukur BB tiap hari pada waktu dan jam yang sama, catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah nyeri dan distorsi lambung.

Anjurkan klien minum banyak kira-kira 2000-2500 cc per hari, kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, K, Na, Cl) dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan tambahan melalui parenteral sesuai indikasi.

Diagnosa. 2

Resiko tinggi pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat

– Tujuan

Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi

– Kriteria hasil

Nafsu makan bertambah, menunjukkan berat badan stabil/ideal, nilai bising usus/peristaltik usus normal (6-12 kali per menit) nilai laboratorium normal, konjungtiva dan membran mukosa bibir tidak pucat.

– Intervensi

Kaji pola nutrisi klien, kaji makan yang di sukai dan tidak disukai klien, anjurkan tirah baring/pembatasan aktivitas selama fase akut, timbang berat badan tiap hari.

Anjurkan klien makan sedikit tapi sering, catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah, nyeri dan distensi lambung, kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet, kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium seperti Hb, Ht dan Albumin dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antiemetik seperti (ranitidine).

Diagnosa 3

Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi

– Tujuan

Hipertermi teratasi

– Kriteria hasil

Suhu, nadi dan pernafasan dalam batas normal bebas dari kedinginan dan tidak terjadi komplikasi yang berhubungan dengan masalah typhoid.

– Intervensi

Observasi suhu tubuh klien, anjurkan keluarga untuk membatasi aktivitas klien, beri kompres dengan air dingin (air biasa) pada daerah axila, lipat paha, temporal bila terjadi panas, anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti katun, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti piretik.

Diagnosa 4

Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik

– Tujuan

Kebutuhan sehari-hari terpenuhi

– Kriteria hasil

Mampu melakukan aktivitas, bergerak dan menunjukkan peningkatan kekuatan otot.

– Intervensi

Berikan lingkungan tenang dengan membatasi pengunjung, bantu kebutuhan sehari-hari klien seperti mandi, BAB dan BAK, bantu klien mobilisasi secara bertahap, dekatkan barang-barang yang selalu di butuhkan ke meja klien, dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin sesuai indikasi.

Diagnosa 5

Resti infeksi sekunder berhubungan dengan tindakan invasive

– Tujuan

Infeksi tidak terjadi

– Kriteria hasil

Bebas dari eritema, bengkak, tanda-tanda infeksi dan bebas dari sekresi purulen/drainase serta febris.

– Intervensi

Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR dan RR). Observasi kelancaran tetesan infus, monitor tanda-tanda infeksi dan antiseptik sesuai dengan kondisi balutan infus, dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti biotik sesuai indikasi.

Diagnosa 6

Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat

– Tujuan

Pengetahuan keluarga meningkat

– Kriteria hasil

Menunjukkan pemahaman tentang penyakitnya, melalui perubahan gaya hidup dan ikut serta dalam pengobatan.

– Intervensinya

Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan keluarga klien tentang penyakit anaknya. Beri pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan klien, beri kesempatan keluaga untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti, beri reinforcement positif jika klien menjawab dengan tepat.

Pilih berbagai strategi belajar seperti teknik ceramah, tanya jawab dan demonstrasi dan tanyakan apa yang tidak di ketahui klien, libatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan pada klien

  1. Evaluasi

Berdasarkan implementasi yang di lakukan, maka evaluasi yang di harapkan untuk klien dengan gangguan sistem pencernaan typhoid adalah: tanda-tanda vital stabil, kebutuhan cairan terpenuhi, kebutuhan nutrisi terpenuhi, tidak terjadi hipertermia, klien dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri, infeksi tidak terjadi dan keluaga klien mengerti tentang penyakitnya.

Leave a comment