Apakah Bisa Penyakit Asma Sembuh?

Asma adalah penyakit kronik saluran napas yang ditandai oleh hiperaktivitas bronkus, yaitu kepekaan saluran napas terhadap berbagai rangsangan. Asma ditandai oleh adanya penyempitan saluran napas dengan berbagai gejala mulai dari batuk-batuk, rasa berat di dada, bunyi mengi, dan sesak napas.

Penyakit asma mengenai semua umur, tetapi terbanyak ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. Pada anak, asma dapat merupakan masalah yang serius karena gejala-gejala penyakitnya, sedangkan pada dewasa, asma dapat mengganggu segala aktivitas.

Penyakit asma juga dapat diartikan sebagai alergi yang menimbulkan gangguan di saluran pernapasan. Saluran pernapasan anak yang terserang asma akan mengerut dan tersumbat oleh lendir, sehingga anak sulit bernapas. Asma yang ditimbulkan oleh alergi dapat berawal dari udara yang tidak bersih, seperti debu rumah, sari bunga atau bulu binatang.

Asma juga dapat ditimbulkan oleh faktor keturunan yang merupakan faktor yang sangat dominan. Untungnya sebagian kecil anak yang menderita penyakit asma ini dapat sembuh ketika mereka semakin dewasa. Namun, sebagian besarnya lainnya membutuhkan pengobatan dan perawatan yang intensif.

Gejala Penyakit Asma

Serangan asma adalah episode di mana otot yang mengelilingi saluran udara dipicu untuk mengencang. Pengencangan otot napas ini disebut bronkospasme. Selama serangan itu, lapisan saluran udara menjadi bengkak atau meradang dan sel-sel yang melapisi saluran udara menghasilkan lebih banyak lendir lebih dari biasanya.

Bronkospasme, peradangan dan produksi lendir merupakan penyebab gejala asma seperti kesulitan bernapas, mengi, batuk, sesak napas, dan kesulitan melakukan aktivitas normal sehari-hari. Gejala lain dari serangan asma meliputi:

– Nyeri dada atau tekanan,

– Pucat, wajah berkeringat dingin,

– Pernapasan Sangat cepat,

– Kesulitan berbicara,

– Perasaan cemas atau panik,

– Mengi parah ketika bernapas baik ketika tarik napas maupun mengeluarkan napas,

– Batuk yang tidak akan berhenti,

– Tarikan otot bantu pernapasan seperti otot leher, otot dada, dan tulang rusuk yang tampak naik turun akibat upaya napas yang berlebih,

– Bibir biru atau kuku menjadi biru, yang dikenal dalam medis sebagai sianosis.

Bisakah Penyakit Asma Sembuh?

Penderita yang ingin sembuh harus menjalankan gaya hidup sehat dan terapi secara rutin, antara lain memakai obat pelega dan pengontrol asma,

Obat pengontrol asma, harus digunakan terus menerus meski penyakitnya tidak sedang kambuh. Jika digunakan secara teratur, ada manfaat lain, yaitu kepekaan pipa saluran napas berkurang sehingga penderita lebih tahan terhadap rangsangan alergen atau iritan.

Obat Penyakit Asma

Kortikosteroid inhalasi (ICS) saat ini masih merupakan obat utama untuk asma. Kortikosteroid mempunyai efek yang kuat dalam mengurangi inflamasi dan aktivasi sel inflamasi. Juga menekan proliferasi dan mengurangi pelepasan mediator inflamasi oleh sel mononuklear, menekan pelepasan cytokine dari limfosit, dan produksi eosinofil.

Secara keseluruhan, korikosteroid adalah anti inflamasi kuat yang jika digunakan secara terapeutik dapat mengembalikan secara sempurna perubahan inflamasi pada asma.

Lebih jauh lagi dan sangat penting adalah penemuan terbaru bahwa kortikosteroid inhalasi walaupun dalam dosis rendah dapat mengurangi mortalitas secara signifikan. Jadi penggunaan ICS dalam pengobatan asma adalah rasional dan dibenarkan secara klinik. 2, 3

Kortikosteroid inhalasi selain menekan inflamasi, juga mengurangi gejala asma, menurunkan reaktivitas bronkus dan memperbaiki fungsi paru. Tetapi di samping keunggulan yang disebutkan di atas kortikosteroid mempunyai beberapa kelemahan. Kortikosteroid tidak menyembuhkan penyakit, artinya bila obat tadi dihentikan pemakaiannya, gejala akan muncul kembali.

Pemakaian secara inhalasi juga menurunkan ketaatan pemakaian obat, sehingga bila dipakai jangka lama, banyak pasien yang putus obat. Selain itu sebagian dokter masih ketakutan akan efek samping steroid dan yang terakhir ada sebagian pasien yang tidak responsif terhadap pengobatan steroid.

Efek samping kortikosteroid inhalasi pada orang dewasa umumnya adalah lokal sepeti disfonia, kandidiasis oral. Penggunaan spacer, dapat mengurangi efek samping lokal. Pada dosis tinggi, kortikosteroid inhalasi dapat meningkatkan efek samping sistemik seperti penipisan kulit, purpura, gangguan pembentukan tulang, dan osteoporosis prematur.

Pernah dilaporkan kortikosteroid inhalasi dapat menyebabkan katarak subkapsular. Obat-obat kostikosteroid inhalasi yang baru seperti flutikason dilaporkan lebih sedikit menimbulkan efek samping dibandingkan beklometason dipropionat, selain dosis pemberian hanya dua kali sehari akan menyebabkan ketaatan berobat.

Golongan obat antiinflamasi yang baru adalah antileukotrien baik berupa penghambat 5-lipooksigonase atau antagonis reseptor leukotrien. Penghambat 5-lipooksigenase diwakili oleh zileuton, sementara antagonis reseptor leukotrien diwakili oleh zafirlukast, montelukas, dan pranlukas, tetapi sejauh ini baru zafirlukast yang beredar di Indonesia.

Zafirlukast selain mengurangi gejala asma, juga dapat memperbaiki fungsi paru, mengurangi eksaserbasi asma, serta menurunkan hipereaktivitas bronkus pada asma sedang. Diduga efek terapeutik obat tersebut karena efek antiinflamasinya atau paling tidak mencegah terjadinya inflamasi obat tadi dengan uji alergen lokal dan asma malam. 3

Leave a comment