Apa Akibat Penyakit Kolestasis?

Penyakit kolestasis adalah penyakit akibat adanya kelainan pada hati dan atau sistem bilier (empedu) yang menyebabkan semua bahan yang seharusnya dibuang oleh hati dan saluran empedu, terganggu alirannya.

Sebagian dari bahan yang menumpuk ini bersifat meracuni dan merusak sel-sel hati sehingga pada akhirnya hati mengalami kerusakan berat yang dinamakan sirosis.

Akibatnya, sel-sel hati diganti jaringan ikat sehingga hati menciut, keras dan tidak lagi dapat menjalankan fungsinya yang sangat vital.

Gejala Penyakit Kolestasis

– Terdapatnya empedu dalam sirkulasi darah bisa menyebabkan gatal-gatal (disertai penggarukan dan kerusakan kulit).

– Jaundice yang menetap lama sebagai akibat Kolestasis, menyebabkan kulit berwarna gelap dan di dalam kulit terdapat endapan kuning karena lemak.

– Tinja terkadang terkadang tampak pucat karena kurangnya bilirubin dalam usus.

– Tinja juga bisa mengandung terlalu banyak lemak (stetore), karena dalam usus tidak terdapat empedu untuk membantu mencerna lemak dalam makanan.

– Air kemih yang berwarna gelap merupakan akibat dari bilirubin yang berlebihan di dalam kulit dan air kemih.

– Jika Kolestasis menetap, kekurangan kalsium dan vitamin D akan menyebabkan pengeroposan tulang yang menyebabkan rasa nyeri di tulang dan patah tulang.

– Berkurangnya empedu dalam usus, juga menyebabkan berkurangnya penyerapan kalsium dan vitamin D.

– Gejala lainnya tergantung dari penyebab Kolestasis, bisa berupa nyeri perut, hilangnya nafsu makan, muntah atau demam, kulit gatal-gatal.

Penyebab Penyakit Kolestasis

Penyebab Kolestasis ini bermacam-macam antara lain:

– Infeksi

-Aatresia bilier atau saluran empedu yang tidak paten (buntu)

– Kista di saluran empedu

– Kelainan bawaan

– Gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak atau asam empedu

– Gangguan pembentukan saluran empedu di dalam hati (sindrome alagille)

– Kerusakan hati akibat obat, dwon syndrom, dan kelainan hormonal.

Komplikasi Penyakit Kolestasis

Komplikasi Penyakit Kolestasis antara lain:

  1. Kolesistitis Kronik

Kolesistitis kronik lebih sering dijumpai di klinis dan lebih sering timbul perlahan-lahan, penderita yang memiliki resiko tinggi terkena komplikasi kronik pada setiap bentuk kolestasis neonates.

  1. Kolesistitis Akut

Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut adalah stasis cairan empedu, infeksi kuman, dan iskemia dinding kandung empedu.

Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu kandung empedu (90%) yang terletak di duktus sistikus yang menyebabkan stasis cairan empedu, sedangkan sebagian kecil kasus timbul tanpa adanya batu empedu (kolesistitis akut akalkulus).

Bagaimana stasis di duktus sistikus dapat menyebabkan kolesistitis akut, masih belum jelas. Diperkirakan banyak faktor yang berpengaruh.

Seperti kepekaan cairan empedu, kolesterol, prostaglandin yang merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu diikuti oleh reaksi inflamasi dan supurasi.

Koleisistitis akut akalkulus dapat timbul pada pasien yang dirawat cukup lama dan mendapat nutrisi secara parenteral, pada sumbatan karena keganasan kandung empedu.

Batu di saluran empedu merupakan salah satu komplikasi penyakit lain seperti demam tifoid dan diabetes mellitus.

Pengobatan Penyakit Kolestasis

Pengobatan paling rasional untuk kolestasis adalah perbaikan aliran empedu ke dalam usus. Pada prinsipnya ada beberapa hal pokok yang menjadi pedoman dalam penatalaksanaannya, yaitu:

– Mengobati komplikasi yang telah terjadi akibat adanya kolestasis.

– Melakukan usaha-usaha yang dapat mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan.

– Sedapat mungkin menghindari segala bahan/keadaan yang dapat mengganggu/merusak hepar.

– Memantau sedapat mungkin untuk mencegah kemungkinan terjadinya keadaan fatal yang dapat mengganggu proses regenerasi hepar.

– Sedapat mungkin mengadakan perbaikan terhadap adanya gangguan aliran empedu.

Pengobatan utama kolestasis tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika karena batu empedu, maka batu tersebut diangkat melalui operasi.

Jika karena saluran sempit atau buntu, dilakukan pembukaan saluran, juga dengan operasi. Jika karena obat-obatan tertentu, maka penggunaan obat-obatan tersebut harus dihentikan.

Jika karena hati mengalami kerusakan hebat sehingga tidak berfungsi lagi, dapat dipertimbangkan operasi pencangkokan hati. Keberhasilan pengobatan tergantung pada sulit tidaknya penyebab kolestasis diobati atau diatasi.

Pengobatan pendukung kolestasis antara lain adalah pemberian kolestiramin. Obat ini berfungsi untuk mengurangi rasa gatal.

Kadang-kadang diberikan juga suplemen vitamin D, K, atau kalsium. Selain itu, untuk mengurangi lemak di dalam usus, penderita tidak boleh mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak.

Leave a comment